Suatu ketika ada seorang wanita separuh baya menghampiriku.
“Hai, nak, apakah kamu ada waktu sebentar?”
“Ada apa ibu?”
“Duduklah di sini sebentar dekat ibu.” Kuturuti kemauannya untuk duduk di samping ibu itu.
Kerutan di wajahnya sudah mulai tampak jelas, tetapi ibu ini masih memiliki sisa kecantikan yang terpancar kuat lewat senyuman.
“Apa yang bisa saya bantu, bu?”
“Nak, maukah kamu membeli sesuatu yang ibu jual? Sudah seharian ibu berjalan dan bertanya kepada semua orang yang ibu jumpai, tetapi tidak satupun dari mereka yang ingin membelinya.”
“Maaf, ibu, memang apa yang ibu jual?”
“Ibu menjual senyuman, nak..”
“Menjual senyum?” Dalam hatiku, pantas saja tidak ada orang yang berniat membelinya. Ibu ini pasti sudah kurang waras. Menjual senyuman? Bagaimana caranya?
“Apakah anak mau membelinya?”
“Mmmm…apakah ibu tidak salah? Senyum siapa yang ibu jual?” aku tanggapi saja ibu sekalian. Mungkin nanti akan kudapatkan cerita yang menarik dari percakapan ini.
“Senyuman ini sangat istimewa. Senyuman yang sederhana, bersahaja, cerdas, dan sangat menawan.” Aku hanya menatap ibu itu yang matanya tidak berhenti berbinar-binar. Ibu ini sangat semangat sekali menawarkan senyuman yang Ia jual kepadaku. “Dan bukan itu saja, anak akan mendapat rejeki dari senyum ini. Tetapi jangan berharap anak akan cepat kaya. Senyuman ini akan menemani anak dengan penuh kesederhanaan, dan pada saat waktunya tiba, Ia akan pergi..Apakah anak berminat?”
Aku sebenarnya tidak begitu menerti akan ucapan ibu ini. Yang membuatku berminat membelinya adalah rasa iba kepada sang ibu yang sudah seharian berjalan jauh untuk menjual senyuman. Memang agak tidak masuk akal, tetapi akhirnya kubeli juga senyuman itu. Aku menganggukan kepala tanda setuju. Ibu itu terlihat sangat senang sekali dan mengeluarkan senyuman yang dijanjikan dari keranjangnya.
“Wah, senyuman yang indah, bu..”
“Kau tidak akan pernah menyesal membelinya, nak. Rawatlah dia baik-baik.” Ibu itu tersenyum lalu meninggalkanku dengan senyuman itu pergi.
Setiap hari kupandangi senyuman itu, yang kian lama semakin memberikan kehangatannya. Senyuman ini semakin indah saja untuk dilihat dan diperhatikan.
Kuraba senyuman itu dengan ujung jariku, senyumnya semakin lebar dan semakin indah.
Benar saja, rejeki untukku berdatangan. Bukan berupa kekayaan materi semata, tetapi juga berupa kasih sayang dan perhatian dari orang-orang sekitarku. Tidak saja itu, senyuman itu memberikan aku semangat yang dapat mewarnai hari-hariku. Hatiku bergetar setiap kali melihat senyuman itu tersenyum padaku. Aku semakin ingin merawatnya lebih lama.
Tiba-tiba senyuman itu menyapaku di suatu pagi.
“Mbak, terima kasih atas kasih yang kau berikan kepadaku, yang membuatku semakin indah dari ke hari..”
“Kenapa, senyuman? Apakah kau akan mengucapkan selamat tinggal? Apakah sekaranglah waktunya kau pergi?”
“Iya, dan aku sangat sangat berterima kasih padamu. Akan ketulusan hati yang selalu mengagumkan dan membuatku tersenyum lebih lebar setiap harinya. Terima kasih, mbak. Selamat tinggal..”
Aku memandang senyuman itu pergi. Hatiku terasa sedikit sakit, tetapi aku tahu senyuman itu tidak akan pernah melupakan aku..
Hei, aku cuma mau bilang, TERIMA KASIH BANYAK.